Riwayat Koperasi

Gerakan koperasi muncul pertama kali di Inggris pada akhir abad ke-18 dan mulai berkembang pada abad ke-19. Latar belakang kelahiran koperasi dipicu oleh Revolusi Industri dan mekanisasi pekerjaan yang mengubah cara berproduksi, sekaligus mengancam hajat hidup banyak pekerja.

Aliansi Koperasi Internasional (International Cooperative Aliance, ICA) mencatat kelahiran koperasi yang pertama pada tahun 1761 di Fenwick, Skotlandia. Koperasi ini dibentuk oleh para tukang pintal. Mereka menjual sekarung oatmeal dengan harga diskon. Kemudian, mereka membentuk Fenwick Weaver’s Society.

Mulai saat itu, beragam gerakan koperasi bermunculan di Inggris maupun belahan Eropa lainnya. Hingga pada tahun 1844, sebanyak 28 pekerja pabrik kapas di Rochdale, dekat Manchester – Inggris, membentuk Rochdale Equitable Pioneers Society atau sering disingkat Rochdale Pioneers. Mereka dianggap sebagai cikal bakal kelahiran koperasi modern.

Rochdale Pioneers
Para pendiri koperasi modern yang pertama di Inggris, Rochdale Pioneers.
Sumber gambar: International Cooperative Alliance.

Para pemintal di pabrik kapas Rochdale ini mengalami kondisi kerja yang sangat memprihatinkan, termasuk upah kerja yang rendah. Mereka tidak sanggup membeli bahan pangan maupun perlengkapan rumah tangga lainnya. Mereka pun berpikir, dengan mengumpulkan sumber daya yang terbatas dan saling bekerja sama, maka mereka akan mampu mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Pada mulanya, mereka hanya menjual 4 kebutuhan pokok berikut: terigu, oatmeal, gula dan mentega.

Lambat laun gerakan koperasi juga merambah sektor keuangan. Koperasi kredit (kopdit) atau Credit Unions (CU) pertama kali dibentuk di Jerman pada tahun 1862. Sejak saat itu, model koperasi ini terus berkembang dan menginspirasi pembentukan CU di banyak negara.

Di Indonesia, Kongres Koperasi Nasional yang pertama diadakan pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya. Tanggal bersejarah ini selanjutnya diperingati sebagai Hari Koperasi di Indonesia.

Bank Pertama di Purwokerto
Bank Desa atau Volksbank yang pertama di Hindia Belanda, didirikan dengan mengadopsi koperasi kredit di Jerman.
Sumber gambar: tirto.id dari Wikicommon.

Meskipun demikian, sejarah koperasi di Indonesia sudah mulai bergulir sejak 16 Desember 1895. Waktu itu Indonesia masih dikenal dengan nama Hindia Belanda. Raden Bei Aria Wirjaatmadja, seorang patih di Purwokerto – Jawa Tengah, dikenal sebagai pendiri Bank Desa atau Bank Rakyat (Volksbank) yang pertama di Hindia Belanda, dengan mengadopsi koperasi kredit seperti yang dikembangkan di Jerman.

Raden Wirjaatmadja tergerak oleh masalah yang dilihatnya saat itu. Banyak pegawai pemerintahan terjerat oleh pinjaman uang dengan bunga yang sangat tinggi. Beliau mendirikan lembaga keuangan bagi pegawai pemerintahan. Dalam perkembangannya, lembaga keuangan tersebut menjadi bank pemerintah yang saat ini dikenal sebagai Bank Rakyat Indonesia.

Pada zaman Hindia Belanda, koperasi belum dapat terbentuk karena tiga alasan berikut (sumber: Times Indonesia):

  1. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non-pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
  2. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.
  3. Pemerintah Hindia Belanda masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politis; koperasi menjadi alat yang dapat membahayakan pemerintahan pada waktu itu.

Itu sebabnya, lembaga keuangan yang dirintis oleh Raden Wirjaatmadja tidak dapat berubah menjadi koperasi. Ketika Indonesia lahir, gerakan koperasi pun mulai berkembang sebagai perwujudan demokrasi ekonomi.

Melihat sejarah koperasi di Eropa maupun Indonesia, latar belakang pembentukan koperasi sama-sama diawali dengan adanya masalah sosial.

Di Eropa, masalah yang dihadapi adalah kesulitan untuk memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Maka, dibentuklah koperasi konsumen (Konsumsi).

Di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda), masalah yang teridentifikasi adalah jeratan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Maka, dibentuklah lembaga sejenis koperasi simpan-pinjam.

Koperasi dibentuk guna mengatasi masalah-masalah sosial tersebut.