KTMM Lahir

Setelah belajar tentang perkoperasian pada Modul 1, tiba saatnya melihat lebih dekat koperasi kita sendiri: Tiba Meka Mandiri.

Sesi ini akan menceritakan riwayat dan latar belakang kelahiran KTMM. Kisah ini masih bertalian dengan perkembangan pariwisata di Labuan Bajo pada khususnya dan Manggarai Barat pada umumnya.

Sekilas Perkembangan Pariwisata di Labuan Bajo

Satwa komodo, patut diakui, merupakan daya tarik utama yang membuat orang mau berkunjung ke sini. Meskipun satwa komodo telah mendiami sebagian daratan Flores dan gugusan pulau di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) sejak lama, dunia luar baru mengenal komodo pada awal abad ke-20.

Perkenalan dunia luar dengan satwa komodo diawali oleh kunjungan Mayor Van Steyn ke Pulau Komodo pada tahun 1910. Dua tahun sesudahnya, P.A. Ouwens menulis tentang reptil raksasa ini di sebuah jurnal ilmiah.

Pada tahun 1926, rombongan ekspedisi dari Amerika Serikat yang dipimpin oleh W. Douglas Burden berkunjung ke kawasan ini untuk melakukan penelitian, pembuatan film dan tentunya menulis buku. Burden menamai reptil raksasa ini, Komodo Dragon. Nama tersebut tetap populer sampai saat ini.

Buku Douglas Burden
Sampul buku karangan Douglas Burden yang memperkenalkan satwa Komodo ke dunia internasional.
Sumber gambar: Blackwells.

Perlindungan terhadap satwa komodo maupun tempat tinggalnya sudah dilakukan sejak awal abad ke-20 melalui beragam regulasi pemerintah saat itu. Pada tahun 1980, Pemerintah Indonesia membentuk 5 taman nasional pertama. Salah satunya adalah Taman Nasional Komodo (TNK) yang fungsi utamanya ialah menjaga kelestarian kawasan kepulauan dan perairan di dalamnya.

Dampak pariwisata di Komodo terhadap perekonomian lokal menarik minat Walpole dan Goodwin untuk melakukan penelitian. Dalam tulisannya Local Economic Impacts of Dragon Tourism in Indonesia (2000), Walpole dan Goodwin mengamati bahwa manfaat pariwisata di TNK masih lebih banyak mengalir ke daerah Sape pada tahun 1990-an.

Seiring dengan kelahiran Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2003 dan peningkatan infrastruktur publik di Labuan Bajo, manfaat pariwisata Komodo mulai bergeser lebih banyak ke Labuan Bajo.

Logo Sail Komodo 2013
Logo Sail Komodo 2013.
Sumber: Wikipedia.

Pemerintah Indonesia juga melirik kawasan Komodo sebagai destinasi wisata yang layak dikembangkan. Wilayah Komodo dimasukkan ke dalam salah satu kawasan strategis pariwisata nasional melalui PP no. 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional 2010-2025. Slogan wisata yang diusulkan saat itu adalah Komodo, The Real Wonder of the World.

Pada tahun 2013, Sail Komodo diselenggarakan. Ini menjadi salah satu tonggak perkembangan pariwisata di Labuan Bajo.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Labuan Bajo pada tahun 2019 menjadi tonggak lain bagi perkembangan pariwisata di kawasan ini. Dengan dicanangkannya Labuan Bajo sebagai destinasi super premium, infrastruktur publik di Labuan Bajo semakin dipercantik pada tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 melanda.

Dinamika Pariwisata di Labuan Bajo

Ada gula, ada semut. Demikian bunyi pepatah untuk menggambarkan perkembangan pariwisata di Labuan Bajo.

Banyak orang, dari wilayah Manggarai Barat, dalam maupun luar negeri, tertarik datang ke Labuan Bajo untuk bekerja atau membuka usaha pariwisata. Sebagian pendiri KTMM turut memperoleh manfaat dari perkembangan pariwisata ini. Mereka mendirikan usaha perjalanan wisata dan berkantor di Labuan Bajo.

Seiring banyaknya pelaku usaha wisata di Labuan Bajo, beragam asosiasi kepariwisataan pun hadir untuk memfasilitasi kepentingan usaha atau profesi anggotanya. Misalnya: ASITA Manggarai Raya, HPI DPC Manggarai Barat, PHRI, ASKAWI (Asosiasi Kapal Wisata Manggarai Barat), AWSTAR (Asosiasi Angkutan Wisata Darat), DOCK, P3KOM, dan seterusnya.

Kelembagaan pariwisata di Labuan Bajo semakin berwarna ketika pemerintah pusat menghadirkan Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPOPLBF) pada tahun 2018.

Waterfront Waringin
Pemandangan perairan Labuan Bajo dari kawasan Puncak Waringin.
Sumber: dokumen KTMM.

Sistem pendaftaran online untuk mengatur kunjungan ke TN Komodo mulai dikenalkan pada tahun 2019 di dua destinasi: Batu Bolong dan Karang Makassar. Pengaturan atau pembatasan jumlah pengunjung ini bertujuan untuk melestarikan kawasan.

Setiap tempat memiliki kemampuan atau keterbatasan untuk menampung orang dalam jumlah tertentu supaya tetap nyaman di dalamnya. Begitu pula dengan tempat wisata. BTNK telah melakukan kajian daya dukung dan daya tampung destinasi wisata di dalam kawasan TNK. Hasil kajian tersebut dijadikan dasar penentuan jumlah tamu yang boleh berkunjung ke destinasi wisata dalam kawasan TNK pada satu waktu.

Beragam isu kepariwisataan semakin menambah maraknya cerita perkembangan pariwisata di Labuan Bajo, antara lain:

  • kesan pertama yang “menggoda” di kedatangan Bandara Komodo dengan aksi pengemudi yang cukup agresif dalam menawarkan jasa transportasi;
  • serbuan pemandu maupun pelaku usaha wisata dari daerah lain tanpa menggunakan jasa pelaku usaha di Labuan Bajo;
  • ulah pelaku usaha wisata dari luar Labuan Bajo yang tidak bertanggung jawab terhadap wisatawan bisa mencoreng citra pariwisata.

Ragam dinamika kepariwisataan di Labuan Bajo ini menjadi latar belakang kelahiran KTMM.

Kelahiran KTMM

Ketika pandemi COVID-19 melanda, sebagian besar pelaku usaha wisata di Labuan Bajo terpaksa gulung tikar. Hikmahnya, para pendiri KTMM yang juga pelaku usaha wisata jadi memiliki waktu luang lebih banyak untuk berkumpul, diskusi dan berefleksi.

Salah satu topik diskusi yang memicu kelahiran KTMM ialah keterlibatan secara aktif dalam kepariwisataan di kawasan TNK. IUPJWA (Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam) merupakan salah satu kuncinya. Sampai dengan akhir 2021, baru ada satu koperasi di Labuan Bajo yang mengantongi IUPJWA di kawasan TNK.

Pertemuan Cafe Demokrasi
Pertemuan awal Para Pendiri KTMM di Cafe Demokrasi, Labuan Bajo.
Sumber gambar: dokumen KTMM.

Hasil refleksi terhadap perkembangan usaha wisata di Labuan Bajo selama ini menunjukkan kecenderungan usaha yang kapitalis dan individualis. Beragam asosiasi wisata yang sudah ada lebih bersifat menghimpun para pelaku usaha yang memiliki kemiripan usaha atau jenis profesi. Asosiasi sendiri bukan sebuah badan usaha kolektif.

Ujung dari diskusi dan refleksi tersebut melahirkan sebuah Koperasi Jasa yang diberi nama Tiba Meka Mandiri (KTMM). Para Pendiri mengadakan rapat pembentukan KTMM pada hari Kamis, 7 Oktober 2021, di rumah Kakak Getrudis Naus, dekat Bandara Komodo – Labuan Bajo. Tanggal ini selanjutnya diperingati sebagai hari kelahiran KTMM.

Pendiri KTMM terdiri atas 10 orang yang berasal dari kombinasi pelaku usaha pariwisata dan akademisi di Labuan Bajo, yaitu: Louis, Jefri, Fitri, Getrudis, Richard, Sapto, Rolan, Roberto, Boe, dan Ladis. Para pendiri KTMM memanfaatkan Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pasal 3 dari PP tersebut berbunyi: Koperasi primer dibentuk paling sedikit oleh 9 (sembilan) orang.

Pengesahan KTMM
Salinan Surat Pengesahan KTMM oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Sumber gambar: dokumen KTMM.

Kesepuluh Pendiri selanjutnya mendaftarkan pendirian KTMM ke Notaris Carolina Djerabu di Labuan Bajo, hingga memperoleh pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 25 Oktober 2021. Kemudian, lanjut mengurus IUPJWA ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Komodo.

Sebagai sebuah koperasi, KTMM dibangun untuk menjadi rumah bersama bagi para pelaku usaha pariwisata di Labuan Bajo maupun Manggarai Barat. Berbeda dengan asosiasi yang keanggotaannya terbatas pada kesamaan usaha atau profesi, keanggotaan KTMM terbuka bagi beragam jenis usaha maupun profesi kepariwisataan.

KTMM juga bisa menjadi kekuatan ekonomi rakyat, seperti yang diamanatkan pendiri bangsa Indonesia.